Yaa ikhwany wa akhwaty tercinta rahimakumullah.
Tahukah engkau apakah "mutiara yang terindah" yang diberikan Allah Swt kepadamu? Itulah "kesucian".
Kita dilahirkan dalam keadaan suci bersih, bagai selembar kertas putih tak bernoda, dan dengan sayangnya Allah Swt berkata:
Fitratallaahillatii fatarannaasa 'alaihaa. “Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar Rum 30:30)
Wahai hamba-hamba terkasih Allah Swt Sang Maha pencipta kita berpesan:
Laa taqrabuz zinaa innahuu kaana faahisyah, wasaa a sabiilaa. “Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang sangat buruk.” (QS. Bani Israil 17:32)
Dan Nabiyallah, yang sangat menyayangi dan mencintai kita (QS. At Taubah 9:128) berkata :
“Bani Adam (manusia) tidak dapat menghindar dari perbuatan (yang menghantarkannya kepada) zina, yang pasti akan menimpanya, yaitu zina mata adalah dengan melihat, zina telinga adalah dengan mendengar, zina lidah adalah dengan ucapan, zina tangan adalah dengan bertindak kasar, zina kaki adalah dengan berjalan. (Dalam hal ini), hati lah yang punya hajat dan cenderung (kepada perbuatan-perbuatan tersebut), dan farji (kelamin) yang menerima atau menolaknya.” (Al Hadits)
Tidakkah takut diri kita ???
Sungguh! seluruh anggota-anggota tubuh ini akan ditanya satu-satu apa yang telah dilakukannya, dan sesungguhnya pada hari itu kelak mereka pandai berkata-kata. Sehingga kita termangu tak berdaya dibuatnya.
Al yauma nakhtimu 'alaa afwaa hihim, watukallimunaa aydiihim, watasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun. “Pada hari ini Kami tutup mulut-mulut mereka, dan berkata kepada Kami tangan-tangan mereka dan memberikan kesaksian kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka usahakan (dahulu).” (QS. Yaasiin 36:65)
Waqaaluu lijuluudihim lima syahid tum 'alainaa. Qaaluu antaqanallaahul lazii an-taqa kulla syai in, wahuwa khalaqakum awwalu marrah, wailaihi turja 'uun. “Dan mereka berkata kepada kulit-kulit mereka :"Mengapa kamu menjadi saksi atas kami?" kulit mereka menjawab, "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama, dan kepada_Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Fushshilat 41:21)
Wamaa kun-tum tastatiruuna an-yasyhada 'alaikum sam ‘ukum walaa absaarukum, walaa juluudukum walaakin-zanan-tum annallaaha laa ya'lamu kasiiran-mimmaa ta'maluun. “Dan tidaklah kamu dapat bersembunyi dari persaksian pendengaranmu, penglihatanmu dan kulit-kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwasanya Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushshilat 41:22).
Dunia ini telah sangat sarat dengan keduniawiannya, sungguh jika kita tiada hati-hati menyikapinya, mudah saja kita jatuh dalam arti kehilangan fitrah sebagaimana mestinya.
Karena itu, Ku mohon padamu (kita semua), Tolong dijaga "mutiara terindahmu" wahai akhi, Tolong dijaga "mutiara terindahmu" duhai ukhty, Jangan nodai dia!
Demi Allah, sungguh! Diri kita sendiri yang akan histeris jika mendapati kesucian itu hilang, terbang bagai angin. Kemana Akan Dicari Gantinya?
Tak merasa perihkah kita? (jika kita dapati jasad yang mulanya jijik, dan dimuliakan_Nya, kemudian kita kotori kembali). Tidakkah kita sadari siapa kita ini sebenarnya dan dari apa asal kita ?
Huwal lazii khalaqakum min-turaabin, tsumma min nutfatin, tsumma min 'alaqatin, tsumma yukhrijukum tiflan, tsumma litablughuu asyuddakum, tsumma litakuunuu syuyuukhaan, wamin-kum man-yutawaffaa min-qablu, walitablughuu ajalaan-musamman, wala 'allaqum ta'qiluun. “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian Dia mengeluarkan kamu sebagai anak kecil, kemudian dibiarkan hidup supaya kamu sampai pada masa dewasa, kemudian (dibiarkan) hidup supaya kamu menjadi tua. Dan diantara kamu ada orang yang diwafatkan sebelum itu, dan kamu dibiarkan hidup supaya kamu sampai pada waktu yang telah ditentukan, dan supaya kamu mengerti.” (QS. Al Mu?min 40:67).
Jika mutiara berharga itu telah sirna. Mampukah lagi diri ini menatap dunia?, Mampukah lagi kita berdiri, bangkit dan bangun membawa "jiwa dan raga" yang telah berganti tak ubahnya najis yang ditakuti semua insan dunia ini?
Nun disekitar kita, sekarang, kemarin dan jaman dahulu kala, masih ada saja yang "khilaf akan dirinya". Sungguh sangat disayang, seribu kali sayang. Tidakkah terbayang murkanya Allah akan perbuatan tersebut?
Azzaaniyatu wazzaanii fajliduu kulla waahidin-minhumaa mi ata jaldah, walaa ta'khuzkum bihimaa ra'fatun-fii diinillaahi in-kun-tum tu'minuuna billaahi walyaumil aakhir, walyasyhad 'azaabahumaa thaa ifatum minal mu'miniin. “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus (kali) dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman keduanya itu disaksikan oleh segolongan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur 24:2)
Dan Rasulullah berkata tegas : Dari 'Ubadah bin Shamid r.a., katanya Rasulullah Saw bersabda : "Laksanakanlah hukumku! Laksanakanlah hukumku! Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum bagi mereka yang berzina. Apabila bujang dan gadis (sama-sama belum kawin), hukumannya dera 100 kali dan penjara satu tahun. Apabila janda dan duda (sama-sama sudah kawin) yang berzina, hukumannya dera seratus kali dan rajam sampai mati.
Tetapi tidaklah di negeri dan bangsa ini (Indonesia). Yang kita dapati bukanlah "pelaksanaan Hukuman Allah yang sedemikian tegas dan jelas itu". Padahal umat islamnya sendiri mengaku mencintai Tuhan dan Nabinya. Jadi, mana bukti cintamu ???:
Suuratun an-zalnaahaa wafaradnaahaa wa anzalnaa fiihaa aayaatin-bayyinaatin-la 'allakum tazakkaruun. “Ini adalah suatu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada didalamnya), dan Kami turunkan didalamnya ayat-ayat yang jelas, supaya kamu memperhatikan. (QS. An Nur 24:1)
Dengan gampangnya diantara kita menikahkan saja mereka-mereka yang berzina, dan hamil, Untuk menutupi aib yang diperbuatnya. astafirughlaahul aziim. (Ya Allah apakah jasad itu tiada punya rasa malu?, apakah batinnya tidak menjerit?) padahal keduanya mengaku beriman kepada_MU dan Rasul_MU. Sungguh tidak akan pernah terjadi perkawinan tersebut (dengan kata lain) tidaklah syah.
Sebagaimana firman_Nya: Laa ta'zimuu 'uqdatan-nikaahi hattaa yablughal kitaabu ajalah. “Janganlah kamu bertetap hati untuk berakad nikah, sebelum habis masa iddahnya.” (QS. Al Baqarah 2:235)
Uu laatul ahmaali ajaluhunna an-yada'na hamlahunna. “Wanita yang mengandung, masa iddahnya ialah setelah melahirkan kandungannya.” (QS. At Thalaq 65:4)
Sebagai renungan pada diri kita, di zaman Rasulullah ketika itu betapa sangat mengerikan pelaksanaan hukuman zina. Padahal sang kekasih Allah itu sangat penyayang dan pengasih orangnya. Beliau sendiri hampir tak percaya ada umatnya yang masih bisa berbuat nista sedemikian rupa.
Dari Sulaiman bin Buraidah r.a., dari bapaknya, katanya: "Pada suatu ketika, Ma'iz bin Malik datang kepada Nabi Saw, lalu dia berkata kepada beliau, "Ya Rasulullah! Sucikanlah aku!" Jawab Rasulullah Saw, "Amboi, kasihan! Pulanglah, minta ampun kepada Allah dan tobatlah kepada_Nya." Ma’iz pergi, tetapi belum begitu jauh dia kembali lagi seraya berkata, "Ya Rasulullah! Sucikanlah aku!" Jawab Rasulullah Saw, "Amboi, kasihan! Pulanglah, minta ampun kepada Allah dan tobatlah kepada_Nya!" Dan hal itu berulang sampai 4 kali.
Pada kali yang keempat Rasulullah Saw bertanya, "Dari hal apakah engkau harus kusucikan?" Jawab Ma'iz, "Dari dosa berzina." Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat yang ada di sekitarnya ketika itu, "Apakah si Ma'iz ini mengidap penyakit gila?" Jawab para sahabat, "Tidak, ya Rasulullah! Dia tidak gila!" Tanya Nabi Saw berikutnya, "Apakah dia baru habis minum khamar?" Seorang sahabat berdiri, lalu membaui Ma'iz, tetapi tidak mencium bau khamar di mulut Ma'iz.
Maka bertanya Rasulullah Saw, kepada Ma'iz, "Betulkah engkau berzina?" Jawab Ma'iz, "Benar ya Rasulullah!" Rasulullah memerintahkan supaya dilaksanakan hukuman rajam terhadap Ma'iz, lalu dia dirajam.
Terdapat dua pendapat dalam masalah ini. Yang pertama mengatakan bahwa Ma'iz tewas, dan dosanya terhapus karena hukuman yang dijalaninya secara ikhlas.
Yang kedua mengatakan, bahwa Ma'iz tobat sebenar-benar tobat. Tiada tobat yang melebihi tobat Ma'iz. Dia datang menghadap Nabi Saw, lalu diletakkannya tangannya di tangan Nabi, kemudian dia berkata, “Ya Rasulullah! Hukum matilah aku dengan batu! (rajamlah aku)!"
Mereka senantiasa dalam perbedaan pendapat seperti itu selama 2/3 hari. Kemudian Rasulullah Saw datang. Setelah memberi salam, lalu beliau duduk bersama-sama dengan mereka. Maka bersabda Rasulullah Saw, "Mintakanlah ampun bagi Ma'iz bin Malik." Lalu mereka memohon semuanya "Semoga Allah mengampuni Ma'iz bin Malik" Rasulullah Saw bersabda: "Ma'iz betul-betul telah tobat dengan sempurna tobat. Seandainya tobat Ma'iz dapat dibagi di antara satu kaum, pasti mencukupi untuk mereka semua."
Dari 'Imran bin Hushain r.a., katanya: "Seorang perempuan dari suku Juhainah datang menghadap kepada Nabi Saw. Padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina. Lalu katanya, "Ya, Nabiyallah! Aku telah melanggar hukum; maka tegakkanlah hukum itu atas diriku!" Karena itu Rasulullah Saw memanggil wali perempuan itu, lalu beliau bersabda kepadanya, "Rawatlah perempuan ini sebaik-baiknya. Apabila dia telah melahirkan (dan kondisinya telah baik serta anaknya ada yang menyusukan/merawat) bawalah dia ke hadapanku!" Perintah Nabi Saw itu dijalankan oleh walinya sesuai dengan yang diperintahkan beliau.
Setelah perempuan itu melahirkan, maka dia dihadapkan kepada Rasulullah Saw. Lalu pakaiannya dieratkan (supaya auratnya jangan terbuka ketika pelaksanaan hukuman). Kemudian Nabi Saw memerintahkan supaya dia dihukum rajam, lalu ia dirajam. Setelah dia tewas, Nabi Saw melakukan shalat jenazah baginya. Maka bertanya 'Umar kepada beliau, "Perlukah dia dishalatkan, ya Nabiyallah? Bukankah dia berzina?" Jawab beliau, "Dia telah tobat sebenar-benarnya tobat. Andaikata tobatnya itu dibagi kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti cukup bagi mereka. Manakah lagi tobat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta’ala secara ikhlas?
Dan jikalau setelah pelaksanaan hukuman tersebut, Allah Swt (Sang Maha Penerima Tobat, Sang Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-hamba_Nya) masih mengizinkan si pezina dan pasangan zinanya hidup) Diberikannya keputusan yang sangat adil. Yach. Dialah hakim yang Seadil-adilnya.
Azzaanii laa yan-kihu illaa zaaniyatan au musyrikah, wazzaaniyatu laayan-kihuhaa illaa zaanin au musyrik, wahurrima zaalika 'alal mu’miniin. “Laki-laki yang berzina tidak akan mengawini melainkan dengan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak akan mengawininya melainkan dengan laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” (QS. An Nur 24:3)
Namun bisakah hukum Allah yang telah jelas dan tegas itu dijalankan? Jika tidak, kenapa diantara kita masih saja bisa menatap dunia dengan segala kenistaan yang kita perbuat, kenapa kita tega menzalimi diri kita sendiri? Kenapa bisa?
Karena itu sayangilah dirimu wahai sahabatku.
Karena sungguh ! Dimana jiwa ini berada dalam genggaman_NYA. Kita tak punya apa-apa atas diri kita, Sungguh ! kita ini binasa dan akan sirna bagai fatamorgana. Apa yang ada pada kita, hanyalah titipan. Semua akan diminta_NYA kembali. Karena itu, sungguh tak pantas diri kita berbuat "keburukan" walau hanya setitik embun yang kita kira akan lesap, kering terkena sinar matahari. Allah sangat mencintai kita, bisakah kita mencintai_Nya? Mencintai_Nya dengan menjaga baik-baik jasad yang satu-satunya ini. Dan Rasul sangat menyayangi kita, jangan biarkan matanya mengabut dan berlinang? Cinta perlu pengorbanan wahai hamba terkasih Allah. Engkau hanya dimintanya menjaga dirimu, bersyukurlah.
Waka ayyin-min-qaryatin 'atat 'an amri rabbihaa warusulihii fahaa sabnaa haa hisaaban syadiidaa, wa’azzabnaahaa 'azaban nukraan. “Berapa banyak dari (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya dan rasul-rasul_Nya, maka Kami perhitungkan dengan perhitungan yang keras, dan Kami mengazabnya dengan azab yang mengerikan.” (QS. At Thalaq 65:8)
"Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini, beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya". (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
tamat
sumber: email tanpa nama pengirim
Untukmu Kader Dakwah
- LASKAR UNGU
- Dakwah berkah karena diusung dengan keikhlasan dan totalitas. Dakwah berkah karena da'inya amanah. Dakwah berkah karena kita bahagia berputar dengannya.
Rabu, 07 Januari 2009
Trilogi II : Kekasih Sejati
Manusia, makhluk Tuhan termulia di muka bumi ini, diciptakan dari sepasang insan yang saling Cinta. Lahir dengan tangis yang menandakan bahwa hidup penuh dengan perjuangan, banyak onak dan duri.
Pernahkah kita sadari kehidupan ini merupakan anugerah yang terbesar yang Allah berikan kepada kita? Bisa kuliah, bekerja, dan berkumpul dengan teman-teman, berbagi cerita, tawa dan canda serta derita yang mewarnai kehidupan ini.
Pernahkah kita bertanya, untuk apa kita hidup di muka bumi ini? pernahkah kita merasa punya arti dan berarti bagi orang lain, merasa dibutuhkan, setidak-tidaknya bagi orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita ?
Pernahkah kita sadari, kita bisa bertahan hidup sampai detik ini tak lain karena Cinta, Cinta dari Allah Swt.
Kita akan lebih sadar jika jauh dari orangtua. Manakala orang-orang yang kita cintai meninggalkan kita. Manakala kita sunyi tak berteman. Manakala kita merasa hampa dalam kehidupan. Tak satupun yang abadi kecuali Cinta Allah pada kita, hamba-hamba_Nya. Tidakkah kita rindu untuk selalu berada di dekat_Nya ?
Rasulullah Saw, beliau selalu rindu untuk bertemu Allah Swt, mendengar suara Azan yang di "Senandung'kan Bilal. “Shalat, adalah kesenangan hidupku". Kata Beliau (Hamba terkasih Allah Swt).
Sekarang wahai saudaraku, hamba-hamba yang dianugerahi iman dan Islam. Siapkan hari-harimu, isi dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat baik bagi temanmu, masyarakat luas, bangsa dan negara. Apalagi semata-mata hanya untuk mencari Ridha Allah Swt, semua itu sebagai tanda Cinta dan rasa syukur kita, yang telah diberikan_Nya anugerah yang begitu banyak.
Waktu semakin cepat, apabila kita tidak memanfaatkannya dengan hal-hal yang berguna, kita akan tergilas masa!.
Berjanjilah untuk jadi yang lebih baik dari sekarang. Dan terbaik di hadapan_Nya.
Karena Cintamu, tidakkah seseorang itu senantiasa ingin tampak baik saat bertemu kekasihnya ???!!!. Jadikan Allah Kekasih Sejati dalam hidupmu.
Silahkan teruskan membaca kelanjutannya di trilogy bagian ketiga, Kemana akan Dicari gantinya?
Pernahkah kita sadari kehidupan ini merupakan anugerah yang terbesar yang Allah berikan kepada kita? Bisa kuliah, bekerja, dan berkumpul dengan teman-teman, berbagi cerita, tawa dan canda serta derita yang mewarnai kehidupan ini.
Pernahkah kita bertanya, untuk apa kita hidup di muka bumi ini? pernahkah kita merasa punya arti dan berarti bagi orang lain, merasa dibutuhkan, setidak-tidaknya bagi orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita ?
Pernahkah kita sadari, kita bisa bertahan hidup sampai detik ini tak lain karena Cinta, Cinta dari Allah Swt.
Kita akan lebih sadar jika jauh dari orangtua. Manakala orang-orang yang kita cintai meninggalkan kita. Manakala kita sunyi tak berteman. Manakala kita merasa hampa dalam kehidupan. Tak satupun yang abadi kecuali Cinta Allah pada kita, hamba-hamba_Nya. Tidakkah kita rindu untuk selalu berada di dekat_Nya ?
Rasulullah Saw, beliau selalu rindu untuk bertemu Allah Swt, mendengar suara Azan yang di "Senandung'kan Bilal. “Shalat, adalah kesenangan hidupku". Kata Beliau (Hamba terkasih Allah Swt).
Sekarang wahai saudaraku, hamba-hamba yang dianugerahi iman dan Islam. Siapkan hari-harimu, isi dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat baik bagi temanmu, masyarakat luas, bangsa dan negara. Apalagi semata-mata hanya untuk mencari Ridha Allah Swt, semua itu sebagai tanda Cinta dan rasa syukur kita, yang telah diberikan_Nya anugerah yang begitu banyak.
Waktu semakin cepat, apabila kita tidak memanfaatkannya dengan hal-hal yang berguna, kita akan tergilas masa!.
Berjanjilah untuk jadi yang lebih baik dari sekarang. Dan terbaik di hadapan_Nya.
Karena Cintamu, tidakkah seseorang itu senantiasa ingin tampak baik saat bertemu kekasihnya ???!!!. Jadikan Allah Kekasih Sejati dalam hidupmu.
Silahkan teruskan membaca kelanjutannya di trilogy bagian ketiga, Kemana akan Dicari gantinya?
Trilogi I : Kasih Tak Sampai
Sahabatku rahimakumullah. Sebagaimana Ia (Allah) menghadirkanmu ke dunia ini dengan rasa cinta, melalui perantara seorang ummi yang penuh kasih, karena itulah rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbumu adalah rasa cinta (ingin dicinta dan mencinta).
Kita tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul, bersama itu pula timbul hasrat dihatimu untuk mencari pasangan hidup, teman berbagi suka duka di alam ini.
Cinta merupakan karunia Ilahi.
Hadirnya tanpa diundang.
Tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam, aksana akar pohon yang rindang
Sahabatku rahimakumullah
Kurasakan getar Qalbumu manakala kau bercerita penuh harap kepadanya
Ia laksana kilau permata yang penuh cahya dimatamu
Mencintainya ibarat kuncup bunga di Qalbumu yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat
Namun ternyata, jangankan mekar yang kau dapat, Kuncup itu layu sebelum berkembang
Manakala kau sadari dia tak pernah mencintaimu
Tak pernah menaruh hati padamu,
Tak pernah menginginkanmu! Tak pernah !
Kekecewaanmu lalu kau tumpahkan dalam sebuah syair lagu walau hanya kau yang tahu...)
Lirih perlahan mengalun:
"Kau bagaikan telaga yang jernih
Yang sejuk airnya serta menyegarkan
Ditumbuhi pepohonan rindang disekelilingmu
Kau sadari akan seseorang
Yang mencintaimu setulus hatinya
Dan kau beri satu pengertian tentang sebuah cinta yang tak kesampaian
Kau hargai satu cinta kasih
Kau buktikan tanpa menghinanya
Walau seringkali kau acuhkan dia yang menyayangimu
Kau berarti baginya
Kharisma didirimu
Dambaan hatinya"
Aduhai gerangan sungguh beruntung yang mendapatkan cintamu
Dan ketika kau kutanya kenapa?
Dengan ungkapan pilu engkaupun berkata:
"Entahlah Akupun tidak tahu. Namun yang terpenting dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia Bagiku...Dialah yang terindah...terbaik..., dan paling mempesona...!"
Pancarannya begitu tajam menghunjam!
Sungguh tak 'kan ada yang bisa menggantikannya
Walau dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!
Aduhai...gerangan...perih nian yang kau rasa...
Kalau begitu baiklah.
Kan kuajak dirimu terbang ke sebuah tempat yang bernama "Negeri kesunyian"
Kenapa ?
Karna engkau butuh kesendirian untuk mengobati luka hatimu. Kita tlah sampai. Tak ada seorangpun yang akan mendengar perbincangan kita... (Listen to me please. Dengarkanlah aku baik-baik sahabatku...!!!)
Sahabat.
Tahukah engkau?
Manakala engkau telah merasa mencintai seseorang
Itu sama artinya engkau t'lah menghamba padanya?
Sadarkah dirimu?
Manakala engkau tahu ia tidak mencintaimu
Itu artinya ia menunjuk pada kekuranganmu?
Tidak terfikirkah olehmu?
Jika yang kau harap saja tidak bisa mencintaimu
Apalagi Yang Menciptakannya?
Astafirughlaahul 'aziim... Astafirughlaahul 'aziim... Astafirughlaahul 'aziim... (Ucapmu seraya menjerit tertahan... titik-titik embun mengggenang di kelopak matamu...mengalir perlahan...membasahi pipi...)
Mengangislah...kalau itu yang membuat hatimu tenang...
Sahabat.
Aku bersyukur kepada Allah kau sadari kini kekhilafanmu.
Bahwa ter-amat sulit untuk menggapai Cinta_Nya bisa engkau pelajari dari makhluk_Nya yang bernama manusia.
Karena itu,
Perbaikilah segala sesuatu yang ada padamu.
Bangkitlah untuk menjadi yang terbaik
Sahabat
Sesungguhnya yang ada padamu sudah ter-amat sempurna.
Rupa wajahmu adalah yang terindah yang kau miliki.
Namun? Sinarannya belum terlihat.
Masih pudar dan perlu dibersihkan.
Dimana letaknya tersimpan di dasar yang paling dalam.
Sulit terjangkau?
Itulah Qalbu (hati) mu.
Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan.
Kilaunya akan memancar ke luar.
Itulah namanya kecantikan/ ketampanan hakiki.
Sesungguhnya.
Seseorang mencintaimu tidaklah melihat dari kecantikan
ketampanan) atau kekayaanmu.
Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada Qalbumu.
Kenapa? Karena kecantikan/ ketampanan akan sirna bersama berlalunya waktu.
Kekayaan akan lesap bersama perputaran roda kehidupan.
Sedangkan pancaran Qalbu akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi kepadamu.
Namun satu hal yang harus kau ingat!
Tak selamanya cinta itu berati memiliki.
Ibarat Qalbumu yang bebas bergerak tanpa bisa kau cegah
Kenapa? Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir
Engkau saja tak dapat memiliki hatimu, apalagi kepunyaan orang lain? yang berhak memilikinya adalah Allah.
Wahai sahabat.
Bukankah sesuatu yang kau sulit mendapatkannya sulit pula kau lepaskan? Demikianlah seseorang itu di hatimu.
Bukankah Kasih tak sampai benteng dirimu untuk senantiasa menjaga kesucianmu?
Terutama Qalbumu. (Yang senantiasa wajib kau jaga kesuciannya).
Karena itulah.
“Kasih Tak Sampai" merupakan cermin bagimu
untuk mengerti arti Cinta Sejati yang sesungguhnya
Sesungguhnya Cinta dijadikan Allah indah di dalam Qalbumu.
Keindahannya akan kau temukan manakala kau dapatkan hatimu mencintai Allah.
Tak ada makhluk yang sempurna di muka bumi ini kecuali diri_Nya.
Karena itu.
Laa tahzaan wa laa takhaaf (Janganlah sedih dan janganlah takut)
Innallaaha ma'ana (Sesungguhnya Allah bersama kamu.)
Betapa dengan sayang_Nya Ia berkata:
"Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna litthayyibaati". Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An Nur 24:26)
"Wallaziina aamanuu asyaddu hubban-lillah". Orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. (QS. Al Baqarah 2:165)
"Yuhibbuhum wa yuribbuu nahuu". Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai_Nya.) QS. Al Maidah 5:54)
----------------------------------------
tulisan ini diambil dari sebuah milis, tanpa nama penulisnya (bagi penulis asli, silahkan hubungi kami agar kami bisa mencantumkan namamu pada tulisan ini). Saran: akan lebih baik jika setelah membaca bagian pertama ini, dilanjutkan dengan membaca bagian berikutnya, yaitu bagian kedua, Kekasih Sejati, dan bagian terakhir, Kemana Kan Dicari Gantinya
Kita tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul, bersama itu pula timbul hasrat dihatimu untuk mencari pasangan hidup, teman berbagi suka duka di alam ini.
Cinta merupakan karunia Ilahi.
Hadirnya tanpa diundang.
Tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam, aksana akar pohon yang rindang
Sahabatku rahimakumullah
Kurasakan getar Qalbumu manakala kau bercerita penuh harap kepadanya
Ia laksana kilau permata yang penuh cahya dimatamu
Mencintainya ibarat kuncup bunga di Qalbumu yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat
Namun ternyata, jangankan mekar yang kau dapat, Kuncup itu layu sebelum berkembang
Manakala kau sadari dia tak pernah mencintaimu
Tak pernah menaruh hati padamu,
Tak pernah menginginkanmu! Tak pernah !
Kekecewaanmu lalu kau tumpahkan dalam sebuah syair lagu walau hanya kau yang tahu...)
Lirih perlahan mengalun:
"Kau bagaikan telaga yang jernih
Yang sejuk airnya serta menyegarkan
Ditumbuhi pepohonan rindang disekelilingmu
Kau sadari akan seseorang
Yang mencintaimu setulus hatinya
Dan kau beri satu pengertian tentang sebuah cinta yang tak kesampaian
Kau hargai satu cinta kasih
Kau buktikan tanpa menghinanya
Walau seringkali kau acuhkan dia yang menyayangimu
Kau berarti baginya
Kharisma didirimu
Dambaan hatinya"
Aduhai gerangan sungguh beruntung yang mendapatkan cintamu
Dan ketika kau kutanya kenapa?
Dengan ungkapan pilu engkaupun berkata:
"Entahlah Akupun tidak tahu. Namun yang terpenting dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia Bagiku...Dialah yang terindah...terbaik..., dan paling mempesona...!"
Pancarannya begitu tajam menghunjam!
Sungguh tak 'kan ada yang bisa menggantikannya
Walau dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!
Aduhai...gerangan...perih nian yang kau rasa...
Kalau begitu baiklah.
Kan kuajak dirimu terbang ke sebuah tempat yang bernama "Negeri kesunyian"
Kenapa ?
Karna engkau butuh kesendirian untuk mengobati luka hatimu. Kita tlah sampai. Tak ada seorangpun yang akan mendengar perbincangan kita... (Listen to me please. Dengarkanlah aku baik-baik sahabatku...!!!)
Sahabat.
Tahukah engkau?
Manakala engkau telah merasa mencintai seseorang
Itu sama artinya engkau t'lah menghamba padanya?
Sadarkah dirimu?
Manakala engkau tahu ia tidak mencintaimu
Itu artinya ia menunjuk pada kekuranganmu?
Tidak terfikirkah olehmu?
Jika yang kau harap saja tidak bisa mencintaimu
Apalagi Yang Menciptakannya?
Astafirughlaahul 'aziim... Astafirughlaahul 'aziim... Astafirughlaahul 'aziim... (Ucapmu seraya menjerit tertahan... titik-titik embun mengggenang di kelopak matamu...mengalir perlahan...membasahi pipi...)
Mengangislah...kalau itu yang membuat hatimu tenang...
Sahabat.
Aku bersyukur kepada Allah kau sadari kini kekhilafanmu.
Bahwa ter-amat sulit untuk menggapai Cinta_Nya bisa engkau pelajari dari makhluk_Nya yang bernama manusia.
Karena itu,
Perbaikilah segala sesuatu yang ada padamu.
Bangkitlah untuk menjadi yang terbaik
Sahabat
Sesungguhnya yang ada padamu sudah ter-amat sempurna.
Rupa wajahmu adalah yang terindah yang kau miliki.
Namun? Sinarannya belum terlihat.
Masih pudar dan perlu dibersihkan.
Dimana letaknya tersimpan di dasar yang paling dalam.
Sulit terjangkau?
Itulah Qalbu (hati) mu.
Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan.
Kilaunya akan memancar ke luar.
Itulah namanya kecantikan/ ketampanan hakiki.
Sesungguhnya.
Seseorang mencintaimu tidaklah melihat dari kecantikan
ketampanan) atau kekayaanmu.
Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada Qalbumu.
Kenapa? Karena kecantikan/ ketampanan akan sirna bersama berlalunya waktu.
Kekayaan akan lesap bersama perputaran roda kehidupan.
Sedangkan pancaran Qalbu akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi kepadamu.
Namun satu hal yang harus kau ingat!
Tak selamanya cinta itu berati memiliki.
Ibarat Qalbumu yang bebas bergerak tanpa bisa kau cegah
Kenapa? Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir
Engkau saja tak dapat memiliki hatimu, apalagi kepunyaan orang lain? yang berhak memilikinya adalah Allah.
Wahai sahabat.
Bukankah sesuatu yang kau sulit mendapatkannya sulit pula kau lepaskan? Demikianlah seseorang itu di hatimu.
Bukankah Kasih tak sampai benteng dirimu untuk senantiasa menjaga kesucianmu?
Terutama Qalbumu. (Yang senantiasa wajib kau jaga kesuciannya).
Karena itulah.
“Kasih Tak Sampai" merupakan cermin bagimu
untuk mengerti arti Cinta Sejati yang sesungguhnya
Sesungguhnya Cinta dijadikan Allah indah di dalam Qalbumu.
Keindahannya akan kau temukan manakala kau dapatkan hatimu mencintai Allah.
Tak ada makhluk yang sempurna di muka bumi ini kecuali diri_Nya.
Karena itu.
Laa tahzaan wa laa takhaaf (Janganlah sedih dan janganlah takut)
Innallaaha ma'ana (Sesungguhnya Allah bersama kamu.)
Betapa dengan sayang_Nya Ia berkata:
"Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna litthayyibaati". Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An Nur 24:26)
"Wallaziina aamanuu asyaddu hubban-lillah". Orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. (QS. Al Baqarah 2:165)
"Yuhibbuhum wa yuribbuu nahuu". Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai_Nya.) QS. Al Maidah 5:54)
----------------------------------------
tulisan ini diambil dari sebuah milis, tanpa nama penulisnya (bagi penulis asli, silahkan hubungi kami agar kami bisa mencantumkan namamu pada tulisan ini). Saran: akan lebih baik jika setelah membaca bagian pertama ini, dilanjutkan dengan membaca bagian berikutnya, yaitu bagian kedua, Kekasih Sejati, dan bagian terakhir, Kemana Kan Dicari Gantinya
Cintaku
Semarang, 05 oktober 2008
Rasa syukur yang tiada pernah ku lupakan untuk Mu Alloh. Kau menuntun setiap langkah hambamu ini hingga hamba menemukan makna dan hakikat kehidupan. Suka dan duka dari sebuah perjuangan. Indahnya ukhuwah islamiyah yang selalu tercermin dalam rona-rona saudaraku.
Kau beri warna lain dalam hidupku, warna yang begitu indah. Yang tak mungkin bisa terlukiskan dengan tinta apapun. Sebuah warna kasih sayang seorang Rabb kepada hamba-Nya. Kasih sayang yang tiada pernah ada yang mampu menandinginya. Terimakasih ya Alloh….!
Ya Alloh, hamba tahu siapa hamba…, hamba tak mungkin mampu mengimbangi rasa cinta dan sayangMu kepada hamba. Tapi izinkanlah hamba untuk mencintai sebisa hamba, cinta dengan penuh pengabdian dan kesungguhan. Hamba berikan seluruh raga, waktu, bahka nyawa ini untuk-Mu ya Alloh.
Hamba juga insan manusia biasa yang tak mungkin sempurna, hamba sering khilaf dan salah. Tidak mampu mengontrol nafsu hamba. Maka dari itu bantulah hamba agar selalu istiqomah di jalan-Mu. Dan izinkanlah hamba termasuk dalam barisan pengusung panji-panji kejayaan islam dan kau pertemukan dengan Rasululloh, syuhada, dan bersama dengan orang-orang yang kau sayangi dan yang menyayangi-Mu ya Alloh…!
Terimakasih atas arti hidup yang Kau berikan ….!
Rasa syukur yang tiada pernah ku lupakan untuk Mu Alloh. Kau menuntun setiap langkah hambamu ini hingga hamba menemukan makna dan hakikat kehidupan. Suka dan duka dari sebuah perjuangan. Indahnya ukhuwah islamiyah yang selalu tercermin dalam rona-rona saudaraku.
Kau beri warna lain dalam hidupku, warna yang begitu indah. Yang tak mungkin bisa terlukiskan dengan tinta apapun. Sebuah warna kasih sayang seorang Rabb kepada hamba-Nya. Kasih sayang yang tiada pernah ada yang mampu menandinginya. Terimakasih ya Alloh….!
Ya Alloh, hamba tahu siapa hamba…, hamba tak mungkin mampu mengimbangi rasa cinta dan sayangMu kepada hamba. Tapi izinkanlah hamba untuk mencintai sebisa hamba, cinta dengan penuh pengabdian dan kesungguhan. Hamba berikan seluruh raga, waktu, bahka nyawa ini untuk-Mu ya Alloh.
Hamba juga insan manusia biasa yang tak mungkin sempurna, hamba sering khilaf dan salah. Tidak mampu mengontrol nafsu hamba. Maka dari itu bantulah hamba agar selalu istiqomah di jalan-Mu. Dan izinkanlah hamba termasuk dalam barisan pengusung panji-panji kejayaan islam dan kau pertemukan dengan Rasululloh, syuhada, dan bersama dengan orang-orang yang kau sayangi dan yang menyayangi-Mu ya Alloh…!
Terimakasih atas arti hidup yang Kau berikan ….!
7 tahapan DF
Tuju Tahapan Dakwah Tarbiyah
Dakwah fardiyah adalah salah satu aspek dakwah. Sebab, kalaupun bukan dengan dakwah fardiyah, masih banyak sarana dakwah lain yang bisa dijadikan piilihan, diantaranya melalui tulisan, khubah, ceramah, pembicaraan informal, dan kerja keras.
Dalam semua langkahnya, seorang da’I tidak boleh mengabaikan rehasia pembuka hati, yakni sifat-sifat mulia yang melahirkan kepercayaan orang terhadapnya.
Sebelum berdakwah kita harus mengenal dulu Waqi’ ‘keadaan umat islam yang akan menjadi obyek dakwah kita. Dalam berdakwah, kita menitik beratkan pada pemahaman islam yang sempurna dan benar, menyeluruh dan bersih.
Tahapan Dakwah Fardiyah
1. Membina hubungan dan mnegenal setiap orang yang hendak di dakwahi. Seorang da’I haurs berusaha agar mad’u merasakan bahwa kita betul-betul memperhatikannya dan selalu menanyakan di saat ia tidak ada.
2. Membangkitkan iman yang telah mengendap dalam jiwa. Pembicaraan tidak langsung diarahkan pada pembahasan tentang iman, tetapi sebaiknya berjalan secara tabi’I, seolah-olah tidak sengaja memanfaatkan momen tertentu.
3. Membentu memeperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara-perkara yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk-bentuk ibadah yang diwajibkan. Begitu juga membantunya melatih dan membiasakan diri dalam ketaatan dan disiplin dalam melaksanakan ibadah, dan dalam usahanya untuk menjauhkan diri dari segala kemaksiyatan dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia.
4. Menjelaskan tentang pengertian ibadah secara menyeluruh, tidak hanya terbatas pada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat saja. Bahkan ibadah itu mencangkup segala aspek kehidupan, mulai dari makan, minum, pakaian, ilmu, amal, perkawinana, olahraga, mendidik anak, dan seterusnya asalkan memenuhi dua syarat yaitu; niat yang benar dan menepati syara’
5. Menjelaskan tentang keberagaman kita tidak cukup hanya dengan keislaman diri kita sendiri, hanya sebagai orang muslim yang taat menjalankan kewajiban ritual, berperilaku baik dan tidak menyakiti orang lain, lalu setelah itu tidak ada lagi. Agama kita adalah agama jama’i. Ia adalah system kehidupan, hukum, perundang-undangan, system kenegaraan, jihad, dan kesatuan umat.
6. Menjelaskan bahwa kawajiban di atas tidak mungkin dilakukan secara individu. MAsing-masing orang secara terpisah tidak akan mampu menegakkan negara islam dan mengembalikan system kekhalifahan. Maka diperlukan sebuah jamaah yang memadukan potensi semua individu untuk memperkuat tugas memikul kewajiban yang berat tersebut.
7. Menjelaskan tentang kesadaran seorang mad’u terhadap kepentingan sebuah jama’ah. Jamaah yang patut dijadikan media amal mestilah mengambil islam secara sempurna dan utuh: dalam segi aqidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, hukum, jihad dan semua aspek kehidupan yang lain.
Arif Muhibullah
Dauroh Dakwah Fardhiyah, Gd. PKMU lt.2, 26-27 Mei 2008
Rohis Lingua Base BEM FBS UNNES
Dakwah fardiyah adalah salah satu aspek dakwah. Sebab, kalaupun bukan dengan dakwah fardiyah, masih banyak sarana dakwah lain yang bisa dijadikan piilihan, diantaranya melalui tulisan, khubah, ceramah, pembicaraan informal, dan kerja keras.
Dalam semua langkahnya, seorang da’I tidak boleh mengabaikan rehasia pembuka hati, yakni sifat-sifat mulia yang melahirkan kepercayaan orang terhadapnya.
Sebelum berdakwah kita harus mengenal dulu Waqi’ ‘keadaan umat islam yang akan menjadi obyek dakwah kita. Dalam berdakwah, kita menitik beratkan pada pemahaman islam yang sempurna dan benar, menyeluruh dan bersih.
Tahapan Dakwah Fardiyah
1. Membina hubungan dan mnegenal setiap orang yang hendak di dakwahi. Seorang da’I haurs berusaha agar mad’u merasakan bahwa kita betul-betul memperhatikannya dan selalu menanyakan di saat ia tidak ada.
2. Membangkitkan iman yang telah mengendap dalam jiwa. Pembicaraan tidak langsung diarahkan pada pembahasan tentang iman, tetapi sebaiknya berjalan secara tabi’I, seolah-olah tidak sengaja memanfaatkan momen tertentu.
3. Membentu memeperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara-perkara yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk-bentuk ibadah yang diwajibkan. Begitu juga membantunya melatih dan membiasakan diri dalam ketaatan dan disiplin dalam melaksanakan ibadah, dan dalam usahanya untuk menjauhkan diri dari segala kemaksiyatan dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia.
4. Menjelaskan tentang pengertian ibadah secara menyeluruh, tidak hanya terbatas pada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat saja. Bahkan ibadah itu mencangkup segala aspek kehidupan, mulai dari makan, minum, pakaian, ilmu, amal, perkawinana, olahraga, mendidik anak, dan seterusnya asalkan memenuhi dua syarat yaitu; niat yang benar dan menepati syara’
5. Menjelaskan tentang keberagaman kita tidak cukup hanya dengan keislaman diri kita sendiri, hanya sebagai orang muslim yang taat menjalankan kewajiban ritual, berperilaku baik dan tidak menyakiti orang lain, lalu setelah itu tidak ada lagi. Agama kita adalah agama jama’i. Ia adalah system kehidupan, hukum, perundang-undangan, system kenegaraan, jihad, dan kesatuan umat.
6. Menjelaskan bahwa kawajiban di atas tidak mungkin dilakukan secara individu. MAsing-masing orang secara terpisah tidak akan mampu menegakkan negara islam dan mengembalikan system kekhalifahan. Maka diperlukan sebuah jamaah yang memadukan potensi semua individu untuk memperkuat tugas memikul kewajiban yang berat tersebut.
7. Menjelaskan tentang kesadaran seorang mad’u terhadap kepentingan sebuah jama’ah. Jamaah yang patut dijadikan media amal mestilah mengambil islam secara sempurna dan utuh: dalam segi aqidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, hukum, jihad dan semua aspek kehidupan yang lain.
Arif Muhibullah
Dauroh Dakwah Fardhiyah, Gd. PKMU lt.2, 26-27 Mei 2008
Rohis Lingua Base BEM FBS UNNES
VMJ
Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah otokritik
Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?
Adab-adab syuro…
Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana. Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan.
Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak (kakakakakkk…). Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….
Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dan seterusnya. Entah yang disyurokan apa…. Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!
Lalu kami pulang. Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Di berbagai tempat.
Suaranya, bikin gemes…. (katanya)
Mengapa saya pakai katanya di dalam kurung? Karena ini ungkapan teman saya, sebut saja Budi (nama yang sudah disamarkan). Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia. Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya
bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya.. . akhwat banget gitu loh! Payah deh…. Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.
Pada kasus-kasus di atas, si Budi memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi. Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi. Saya sepakat! Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering.
Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. “Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?” Begitu katanya. “Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok.” Apa iya?
Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, “Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba? Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon
langsung.
Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah njawabnya “Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?
Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan-akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.
Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah. Sederhana, bukan?
Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?
Adab-adab syuro…
Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana. Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan.
Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak (kakakakakkk…). Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….
Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dan seterusnya. Entah yang disyurokan apa…. Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!
Lalu kami pulang. Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Di berbagai tempat.
Suaranya, bikin gemes…. (katanya)
Mengapa saya pakai katanya di dalam kurung? Karena ini ungkapan teman saya, sebut saja Budi (nama yang sudah disamarkan). Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia. Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya
bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya.. . akhwat banget gitu loh! Payah deh…. Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.
Pada kasus-kasus di atas, si Budi memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi. Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi. Saya sepakat! Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering.
Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. “Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?” Begitu katanya. “Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok.” Apa iya?
Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, “Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba? Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon
langsung.
Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah njawabnya “Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?
Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan-akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.
Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah. Sederhana, bukan?
akurasi janji Vs Manajemen Afwan
Akurasi Janji Versus Manajemen Afwan
Umumnya aktivitas kaum tarbawi super padat, semangat dakwah kadang berpacu dengan semangat kuliah, kerja atupun mengejar ma’isyah. Kesibukan tersebut di atas menyebabkan aktivis tarbiyah harus dengan tanpa sungkan-sungkan mengungkapkan, “Afwan Akhi, Afwan Ukhti……” ketika gagal menunaikan amanah atau menuai janji.
Realitas ini memang sudah menjadi hal lumrah dan Common sense dikalangan tarbiyah. Di satu sisi, manajeman Afwan ini menunjukkan betapa santunnya seorang kader terhadap kegagalannya, baik menepati waktu, janji, maupun komitmen dalam sutu kesempatan. Tapi disisi lain kelimat itu sering kali dijadikan perisai atas segalan bentuk kegagalannya dalam menjalankan amanah dari yang kecil sampai yang terbesar.
Muara dari manajemen afwan ini adalah bentuk penurunan kredibilitas bila memang kesalahan atau ketidakmampuan menepati janji itu benar-benar sabagai kesalahan akibat kelalaian. Tapi akan dimaklumi dan menjadi kredibel pernyataan Afwan bila betul-betul penyebabnya adalah force majeur atau kesalahan luar kemampuan. Seperti sakit, meninggal, bencana alam, atau yang lainnya.
Lain halnya dengan kaum tarbawi yang pernah mengalami pengalaman organisasi, biasanya memiliki komitmen yang lebih baik dalam menepti janji atau amanah. Sehingga hasil interaksi manusia-manusia dalam kumpulan organisasi tersebut memberikan kematangan tersendiri bagi yang bersangkutan dalam mengemban amanah.
Mereka yang terbiasa menepati janji biasanya lebih leading baik di tempat dia tinggal, bekerja, atau menempuh pendidikan. Hal ini disebabkan kredibilatasnya terjaga sebagai seorang muslim. Sebaliknya, mereka yang terbiasa mengingkari janji, kredibilitasnya lambat laun akan mengerosi.
Islam sendiri memandang pemenuhan janji dan amanah sebagai kewajiban. Oleh karenanya bagi yang seirng ingkar janji dan tidak amanah dikelompokkan sebagai munafik. Bahkan lebih keras lagi, Islam memandang orang munafik akan ditempatkan di keraknya neraka.
“Sesunguhnya ciri orang munafik itu ada tiga hal; bila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila diamanahi dia berkhianat.” Demikian Rasululloh bersabda. “Sesungguhnya tempat yang layak bagi orang munafik adalah di keraknya neraka,” Begitulah Allah menjanjikan kepada yang munafik.
Pendek kata, jika aktivis tarbiyah benar-benar menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya, tidak perlu ada kata afwan dalam hidupnya. Karena kata tersebut status sosialnya sangat rendah, menunjukkan ketidakmampuan memenuhi janji atau manjalankan amanah, baik sengaja atau tidak, baik dengan atau tanpa sebab diluar kekuasaannya.$
Diunduh dari buku “Efek Bola Salju PKS” oleh Djony Edward
Umumnya aktivitas kaum tarbawi super padat, semangat dakwah kadang berpacu dengan semangat kuliah, kerja atupun mengejar ma’isyah. Kesibukan tersebut di atas menyebabkan aktivis tarbiyah harus dengan tanpa sungkan-sungkan mengungkapkan, “Afwan Akhi, Afwan Ukhti……” ketika gagal menunaikan amanah atau menuai janji.
Realitas ini memang sudah menjadi hal lumrah dan Common sense dikalangan tarbiyah. Di satu sisi, manajeman Afwan ini menunjukkan betapa santunnya seorang kader terhadap kegagalannya, baik menepati waktu, janji, maupun komitmen dalam sutu kesempatan. Tapi disisi lain kelimat itu sering kali dijadikan perisai atas segalan bentuk kegagalannya dalam menjalankan amanah dari yang kecil sampai yang terbesar.
Muara dari manajemen afwan ini adalah bentuk penurunan kredibilitas bila memang kesalahan atau ketidakmampuan menepati janji itu benar-benar sabagai kesalahan akibat kelalaian. Tapi akan dimaklumi dan menjadi kredibel pernyataan Afwan bila betul-betul penyebabnya adalah force majeur atau kesalahan luar kemampuan. Seperti sakit, meninggal, bencana alam, atau yang lainnya.
Lain halnya dengan kaum tarbawi yang pernah mengalami pengalaman organisasi, biasanya memiliki komitmen yang lebih baik dalam menepti janji atau amanah. Sehingga hasil interaksi manusia-manusia dalam kumpulan organisasi tersebut memberikan kematangan tersendiri bagi yang bersangkutan dalam mengemban amanah.
Mereka yang terbiasa menepati janji biasanya lebih leading baik di tempat dia tinggal, bekerja, atau menempuh pendidikan. Hal ini disebabkan kredibilatasnya terjaga sebagai seorang muslim. Sebaliknya, mereka yang terbiasa mengingkari janji, kredibilitasnya lambat laun akan mengerosi.
Islam sendiri memandang pemenuhan janji dan amanah sebagai kewajiban. Oleh karenanya bagi yang seirng ingkar janji dan tidak amanah dikelompokkan sebagai munafik. Bahkan lebih keras lagi, Islam memandang orang munafik akan ditempatkan di keraknya neraka.
“Sesunguhnya ciri orang munafik itu ada tiga hal; bila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila diamanahi dia berkhianat.” Demikian Rasululloh bersabda. “Sesungguhnya tempat yang layak bagi orang munafik adalah di keraknya neraka,” Begitulah Allah menjanjikan kepada yang munafik.
Pendek kata, jika aktivis tarbiyah benar-benar menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya, tidak perlu ada kata afwan dalam hidupnya. Karena kata tersebut status sosialnya sangat rendah, menunjukkan ketidakmampuan memenuhi janji atau manjalankan amanah, baik sengaja atau tidak, baik dengan atau tanpa sebab diluar kekuasaannya.$
Diunduh dari buku “Efek Bola Salju PKS” oleh Djony Edward
Langganan:
Komentar (Atom)