Untukmu Kader Dakwah

Foto saya
Dakwah berkah karena diusung dengan keikhlasan dan totalitas. Dakwah berkah karena da'inya amanah. Dakwah berkah karena kita bahagia berputar dengannya.

Rabu, 07 Januari 2009

teruntuk saudaraku

Jumat 31 Oktober 2008
Musuh aktivis dakwah bukanlah semua yang nampak di depan mata, bukanlah sekerumunan orang-orang yang memang mengklaim dan menyatakan dirinya sebagai rifal dakwah. Tetapi musuh para aktivis dakwah yang paling berbahaya adalah nafsu yang ada di hati para manusia. Ketika aktivis dakwah dikembalikan pada tabiatnya sebagai insan manusia yang tak pernah bisa sempurna, aktivis dakwah harus mampu menjaga hatinya, atau ruh nya agar tetap berada di jalan dakwah ini.
Tidak sedikit para aktivitas dakwah yang telah berguguran di tengah jalan lantaran ia tidak mampu menjaga ruhnya. Ia selalu mengeluh dengan kondisi kadernya, ia mudah berpuruk sangka dengan saudaranya yang lain, ia lebih mengutamakan kepentingan individu dari pada kepentingan jamaah, ia mudah sekali mengutarakan alasan-alasan untuk meninggalkan aktivitas dakwah, ia melakukan setiap aktivitas dakwah karena kewajiban dalam menjalankan amanah bukan karena kesadaran dan kebutuhan kita dalam dakwah, ia menjadikan dakwah sebagai lahan profesi ajang mencari populeritas, ia sudah melupakan indahnya ukhuwah islamiyah, dan ia sudah lupa pada asolah dakwah.
Saudaraku, kita tahu perjuangan ini tak mudah. Ust Rahmat Abdullah dalam filmnya menyampaikan. Kita ibarat monyet yang sedang naik pohon. Ketika datang angin topan, atau badai yang begitu lebat monyet itu sulit untuk jatuh bahkan akan lebih erat pegangannya. Akan tetapi ketika datang angin sepoi-spoi, perlahan-lahan monyet itu dibelai dengan lembutnya angin, lalu terkantuk, sedikit-sedikit peganngannya mulai kendor dan….jatuh. begitulah dakwah ini, kalau musuh itu Nampak didepan mata, meski banyak tidak mampu merobohkan semangat kita. Tapi ketika kita di uji dengan nafsu-nafsu kecil, maka lambat laun iman kita akan goyah dan alamat kemana semangat kita.
Tidak ada alasan yang tidak logis. Tapi bagaimana kita menempatkan diri kita untuk tetap berkontribusi secara nyata di jalan dakwah ini. Terkadang lisan ini lebih sering mengatakan “afwan” dibanding istigfar. Begitu tidak profesionalkah kita, sehingga begitu banyak tangungjawab yang tidak tertuntaskan karena kecerobohan dan keteledoran kita, dan kita sudahi dengan cukup kata “afwan”. Bukankah islam begitu sempurna.
Saudaraku, ayo bangkit. Jangan mengulangi kesalahan dan kecerobhan yang sama. Sungguh merugi bagi mereka yang hari ini sama dengan hari kemarin, atau malah lebih buruk. Teringat suara seorang alk alkh(senior), akh..sebenarnya apa yang terjadi dengan kader sekarang, kenapa mereka masih saja mengulang keslahan yang pernah ane perbuat. Bukankah tiap kali habis kegiatan sudah kalian evaluasi. Ane masih sering mendengar: kurang koordinasi, nggak tepat waktu, molor, dan masih banyak lagi. Akhi itu adalah masalah ane dulu janganlah kalian ulangi. Ane ingin kepergian ane dari kampus ane, ane bisa melihat rohis makin mengepakkan sayapnya di bahtera dakwah yang makin luas, makin nyata peradaban islam di raut wajah kalian, tapi kenapa setiap ane Tanya kalian menjawab: kader kita sedikit akh…., itu masalah klise. Ane menangis setiap mendengar kalian mengulang kesalahan ane”
Saudaraku, bulan ramadhan sudah berlalu. Disana kita ditempa dan di tarbiyah langsung oleh Alloh. Adakah peningkatan didiri kita.
Sering kita mengeluh,”kenapa ya acara kita yang dating sedikit, bukankah sudah kita musyawarahkan jauh-jauh hari, bukankah marketing kita sudah bagus pula, konsep juga sangat wah…,apa yang kurang?” ayo perbaiki lagi ruhiyah kalian. Semoga Alloh meringankan setiapjengkal langkah dakwah kita.
Saudaraku, jangan sampai katidaksiapan kita dipaksakan oleh Alloh untuk kita agar mengemban amanah-amanah penting di dakwah ini. Jangan sampai masalah kapasitas kader meneyebabkan lembeknya dakwah ini. Jadilah kader yang selalu dengan setiap seruan-seruan dakwah yang menunggunya. Insyaalloh, yakinlah Alloh mengiringi setiap aktivitas kita.
Melangkah ke alam perjuangan berarti rela dalam kepahitan, biarlah diri menangis, terluka, kecewa, asal tetap berada di jalan Alloh Swt, dari pada mati tanpa mujahadah. Kita tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan darah dari luka dan air mata itulah mahar kita ke surge-Nya. Kenapa dakwah ini begitu pahit, karena surge itu manis.
Semangat saudaraku, mari bersama-sama kita bangun peradaban islam. Kita tegak kan islam dimuka bumi ini, bermula dari kampus ini.
Afwu minkum, semoga Aloh menjaga keistiqomahan kita. Amien……

Jundi dakwah
Arif Muhibullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar